Kamis, 26 Mei 2016

Rusaknya mental remaja kita



Rusaknya mental remaja kita
a.       Kejadian
 i.      Pembunuhan ayah/ibu pelakunya para remaja
ii.      Genk Motor pelakunya para remaja
iii.      Begal motor pelakunya para remaja
iv.      Pemerkosa sekaligus pembuhan sadis pelakunya para remaja

Ada apa dengan remaja kita?





Siswi Merokok dalam angkot
Miris melihat setiap berita yang saya tonton, baca bahkan dengar bahwa akhir-akhir ini ulasanya diwarnai dengan kasus yang sangat “mengelus dada”. Bagaimana tidak, beberapa peristiwa yang sangat memilukan itu masih layak atau tidak menyebut pelakunya sebagai “Manusia”??. Pembunuhan adalah jelas sebuah “Dosa Besar” menurut sudut agama, pun menurut hukum merupakan sebuah tindakan yang tak berprikemanusiaan. Ironis pelakunya kebanyakan dari kalangan remaja. Ada apakah dengan remaja kita?
Geng Motor di Cirebon beberapa kali melukai bahkan sampai membunuh warga sipil, Begal motor yang terjadi di beberapa kawasan di Cirebon contohnya di Arjawinangun, Bayalangu, Kumpul, bahkan di daerah Gunung Djati remajalah pelakunya. Yang paling memilukan adalah Pemerkosaan dan pembunuhan sadis yang akhir-akhir ini santer di beritakan dalam TV, Surat Kabar, Media Sosial, bahkan Radio selalu di dalangi oleh kaum remaja.
Foto X-Ray (Rongen) gagang pacul sampai ke paru-paru membuat “Eneg” yang melihat, seirama dengan perasaan dalah hati yang jengkel, kesal, marah terhadap pelakunya. Sampai hati “mereka” melakukan tindakan keji seperti itu?? Masih pantas mereka disebut debagai “Manusia”??
Mari “kita” sedikit analisis…
Mental dan Uang, dua hal yang mungkin tidak ada kaitanya ataupun sangat erat hubunganya. Seorang anak tumbuh dari kecil hingga dewasa di dalam sebuah Keluarga. Sebuah keluarga hidup dalam sebuah lingkungan, lingkungan dipengaruhi oleh Kemajuan Teknologi, Adat Istiadat, Media, dll.
Kasus Gagang Pacul Eno
Perkembangan anak seyogyanya antara jasmani dan rohani tumbuh seirama, makin besar fisik makin kuat mental, hal ini hanya mungkin di dapat jika kita senantiasa mengoptimalkan waktu/kesempatan untuk memperhatikan tumbuh kembang anak. Akan tetapi pada kenyataanya anak hanya tumbuh “sehat” di fisiknya saja tidak serta dengan “rohani/mentalnya”. Terbukti dengan semakin gampangnya kita melihat anak-anak sudah bisa merokok, melihat konten porno dalam hp nya, mabuk-mabukan, tidak malu menggoda teman wanitanya, bahkan sudah berani pacaran. Lihat..!!! Mereka (anak/remaja.red) sudah “dewasa” sebelum waktunya. Bagaimana perasaan orang tua mereka jikalau mendapati anaknya sedang merokok? Mabuk? Pacaran? Terlebih jika anak kita perempuan kemudian di “lecehkan” sama teman-teman prianya?

Kejadian di atas adalah contoh kecil dan sekaligus “Bibit” dari peristiwa memilukan yang kita dengar saat ini. Mau di bawa kemana generasi kita? Jangankan untuk bisa memuliakan kita sebagai orang tua, untuk tidak melukai atau merugikan orang lain juga sudah untung. Lantas apakah kita semua akan membiarkan saja keadaan seperti ini terjadi pada generasi kita?
Begal Motor
Pendidikan… ya pendidikan.. merupakan kunci memperbaiki moral generasi kita. “Anak saya sudah saya sekolahkan di sekolah yang terbaik, dengan bayaran yang tidak sedikit, sudah saya suruh mengaji, sudah saya suruh ikut organisasi, sudah saya suruh ini…itu… semuanya…..!!!” terus kenapa hasilnya malah seperti ini??
KITA, semua termasuk saya, sebagian besar menganggap bahwa pendidikan itu hanya mencerdaskan otak dan hanya di seolah. Semua itu SALAH KAPRAH. Sejatinya pendidikan itu ada dalam lingkungan keluarga, ya.. keluarga. Anak 70% waktunya ada di keluarga, di keluarga anak dikenalkan budaya, budaya dari orang tuanya. Budaya disiplin, budaya agamis, budaya cermat, budaya hemat, budaya saling menyayangi, budaya menghormati yang lebih tua, budaya kesopanan, budaya malu, dll.
Perhatian orang tua adalah pilarnya pendidikan moral, jikalau kita memperhatikan anak dengan telaten dan kasih sayang, mungkin generasi kita moralnya tidak serusak ini.
Geng Motor
            Dilapangan, acap kali kita jumpai ortunya “gila” mengejar “uang” sampai waktu untuk mendidik “budaya baik” ke anak pun terlupakan. Mereka hanya peduli “anak akan malu jika ke sekolah gak ada uang jajan”. Bukan bereti anak tidak bolah jajan, tapi setidaknya kita bagi waktu kita untuk memperhatikan moral anak. Kita awasi tontonanya, sikapi dalam tutur katanya, control setiap gatget/hp kepunyaanya, pantau setiap aktivitasnya… pokoknya sedikit perhatian kita saat ini Insya Allah akan di ganjar masa tua kita dengan lebih nyaman dan tentram.
            “Uang memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang” itu sebuah slogan yang menjadi senjata utama orang-orang yang hidup jaman sekarang. Setujukah anda? Dengan slogan tersebut seolah kita “Wajib” mencari uang “Sunnah” mendidik anak. Dengan slogan tersebut banyak yang rela pergi ke luar negeri dengan menitipkan anaknya pada suami/orang tua/mertua. Tidak ingat bahwa di tempatnya “beliau” juga memiliki kewajiban tersendiri. Suami mencari nafkah, orang tua masih menanggung adik, serta cucu-cucu yang lain. Mertua pun sama halnya dengan orang tua yang mungkin tenaganya sudah tidak sekuat kita.
Lantas untuk mengawasi pergaulan “anak/remaja” yang sedemikian aktif akankah cukup dengan tenaga dan focus dari orang tua kita? atau suami seorang diri? Lantas bagaimana dengan “Hak” mereka yang semakin tua mungkin berkeinginan menikmati hidup dengan beribadah yang tenang? Terlebih anak adalah sebuah karuniah yang mungkin bisa menjadi sebuah mala petaka bilamana kita tidak menjaganya dengan baik.
“Mekaya sing gena dewek masa cukupa..” Artinya, “Mencari nafkah di tempat sendiri gak bakalan cukup..” itu salah satu alasan bagi mereka yang berangkat jadi TKW. Bagaimana kalau alasan tersebut kita adu dengan argument seperti ini “Sekecil-kecilnya rejeki kalau untuk hidup cukup, tapi sebanyak-banyaknya duit kalau untuk gaya hidup pasti tidak cukup”. Bagaimana menurut saudara?
Menjadi TKW itu pekerjaan mulia, halal, mungkin yang salah adalah motivasinya.
Motivasi TKW jaman sekarang bukanlah untuk menyambung hidup, tetapi lebih kepada “Gaya Hidup”. Lihat tetangga punya motor, hp bagus, bahkan bisa bikin rumah… semua bikin penyakit hati yang namanya “Iri” itu muncul ke otak. Ditambah hidup dengan mertua kurang nyaman, akhirnya kepengen bangun rumah sendiri. Okelah, manusiawi jika kita punya keinginan, tetapi “efeknya” sering kita dibutakan oleh “Harapan Manis Dunia”.
Bukankah yang sebaik-baiknya anak memberikan “Kenyamanan” di sisa umur orang tua kita? Maka jangan bebani mereka dengan mengawasi cucunya. Bukankah lebih baik kita mewariskan “ilmu” kepada keturunan kita di banding Harta?? Pikirkan mana yang lebih selamat?
Mari kita sama-sama awasi mereka yang kita cintai (Khususnya anak kita) agar hidup kita nyaman dan terhindar dari masalah.
Memperbaiki kerusakan mental remaja kita, tidak semata kewajiban pemerintah, kewajiban bersama lebih tepatnya. Mari kita menjadi orang yang mau mengadakan perubahan “kecil” dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan.


“Jangan Tukar harapan masa depan anak kita menjadi “orang baik” dengan uang yang jumlahnya tidak seberapa”.
 
 Demikian tulisan yang saya buat ini, semoga tersirat manfaat untuk kehidupan yang membaca. Amin.

“Mari kita ubah dunia meski dengan sebuah tulisan”.

By. Jajat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar