Rusaknya mental
remaja kita
a.
Kejadian
i.
Pembunuhan
ayah/ibu pelakunya para remaja
ii.
Genk Motor
pelakunya para remaja
iii.
Begal motor
pelakunya para remaja
iv.
Pemerkosa sekaligus
pembuhan sadis pelakunya para remaja
Ada apa dengan remaja kita?
![]() |
| Siswi Merokok dalam angkot |
Miris
melihat setiap berita yang saya tonton, baca bahkan dengar bahwa akhir-akhir
ini ulasanya diwarnai dengan kasus yang sangat “mengelus dada”. Bagaimana tidak,
beberapa peristiwa yang sangat memilukan itu masih layak atau tidak menyebut
pelakunya sebagai “Manusia”??. Pembunuhan adalah jelas sebuah “Dosa Besar”
menurut sudut agama, pun menurut hukum merupakan sebuah tindakan yang tak
berprikemanusiaan. Ironis pelakunya kebanyakan dari kalangan remaja. Ada apakah
dengan remaja kita?
Geng
Motor di Cirebon beberapa kali melukai bahkan sampai membunuh warga sipil,
Begal motor yang terjadi di beberapa kawasan di Cirebon contohnya di
Arjawinangun, Bayalangu, Kumpul, bahkan di daerah Gunung Djati remajalah
pelakunya. Yang paling memilukan adalah Pemerkosaan dan pembunuhan sadis yang
akhir-akhir ini santer di beritakan dalam TV, Surat Kabar, Media Sosial, bahkan
Radio selalu di dalangi oleh kaum remaja.
Foto
X-Ray (Rongen) gagang pacul sampai ke paru-paru membuat “Eneg” yang melihat,
seirama dengan perasaan dalah hati yang jengkel, kesal, marah terhadap
pelakunya. Sampai hati “mereka” melakukan tindakan keji seperti itu?? Masih pantas
mereka disebut debagai “Manusia”??
Mari “kita” sedikit
analisis…
Mental
dan Uang, dua hal yang mungkin tidak ada kaitanya ataupun sangat erat
hubunganya. Seorang anak tumbuh dari kecil hingga dewasa di dalam sebuah
Keluarga. Sebuah keluarga hidup dalam sebuah lingkungan, lingkungan dipengaruhi
oleh Kemajuan Teknologi, Adat Istiadat, Media, dll.
![]() |
| Kasus Gagang Pacul Eno |
Perkembangan
anak seyogyanya antara jasmani dan rohani tumbuh seirama, makin besar fisik
makin kuat mental, hal ini hanya mungkin di dapat jika kita senantiasa
mengoptimalkan waktu/kesempatan untuk memperhatikan tumbuh kembang anak. Akan tetapi
pada kenyataanya anak hanya tumbuh “sehat” di fisiknya saja tidak serta dengan “rohani/mentalnya”.
Terbukti dengan semakin gampangnya kita melihat anak-anak sudah bisa merokok,
melihat konten porno dalam hp nya, mabuk-mabukan, tidak malu menggoda teman
wanitanya, bahkan sudah berani pacaran. Lihat..!!! Mereka (anak/remaja.red)
sudah “dewasa” sebelum waktunya. Bagaimana perasaan orang tua mereka jikalau
mendapati anaknya sedang merokok? Mabuk? Pacaran? Terlebih jika anak kita
perempuan kemudian di “lecehkan” sama teman-teman prianya?
Kejadian
di atas adalah contoh kecil dan sekaligus “Bibit” dari peristiwa memilukan yang
kita dengar saat ini. Mau di bawa kemana generasi kita? Jangankan untuk bisa memuliakan
kita sebagai orang tua, untuk tidak melukai atau merugikan orang lain juga
sudah untung. Lantas apakah kita semua akan membiarkan saja keadaan seperti ini
terjadi pada generasi kita?
![]() |
| Begal Motor |
Pendidikan…
ya pendidikan.. merupakan kunci memperbaiki moral generasi kita. “Anak saya
sudah saya sekolahkan di sekolah yang terbaik, dengan bayaran yang tidak
sedikit, sudah saya suruh mengaji, sudah saya suruh ikut organisasi, sudah saya
suruh ini…itu… semuanya…..!!!” terus kenapa hasilnya malah seperti ini??
KITA,
semua termasuk saya, sebagian besar menganggap bahwa pendidikan itu hanya
mencerdaskan otak dan hanya di seolah. Semua itu SALAH KAPRAH. Sejatinya
pendidikan itu ada dalam lingkungan keluarga, ya.. keluarga. Anak 70% waktunya
ada di keluarga, di keluarga anak dikenalkan budaya, budaya dari orang tuanya. Budaya
disiplin, budaya agamis, budaya cermat, budaya hemat, budaya saling menyayangi,
budaya menghormati yang lebih tua, budaya kesopanan, budaya malu, dll.
Perhatian orang tua
adalah pilarnya pendidikan moral, jikalau kita memperhatikan anak dengan
telaten dan kasih sayang, mungkin generasi kita moralnya tidak serusak ini.
![]() |
| Geng Motor |
Dilapangan, acap kali kita jumpai ortunya “gila” mengejar
“uang” sampai waktu untuk mendidik “budaya baik” ke anak pun terlupakan. Mereka
hanya peduli “anak akan malu jika ke sekolah gak ada uang jajan”. Bukan bereti
anak tidak bolah jajan, tapi setidaknya kita bagi waktu kita untuk
memperhatikan moral anak. Kita awasi tontonanya, sikapi dalam tutur katanya, control
setiap gatget/hp kepunyaanya, pantau setiap aktivitasnya… pokoknya sedikit perhatian
kita saat ini Insya Allah akan di ganjar masa tua kita dengan lebih nyaman dan
tentram.
“Uang
memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang” itu sebuah slogan yang menjadi senjata utama orang-orang
yang hidup jaman sekarang. Setujukah anda? Dengan slogan tersebut seolah kita “Wajib”
mencari uang “Sunnah” mendidik anak. Dengan slogan tersebut banyak yang rela
pergi ke luar negeri dengan menitipkan anaknya pada suami/orang tua/mertua. Tidak
ingat bahwa di tempatnya “beliau” juga memiliki kewajiban tersendiri. Suami mencari
nafkah, orang tua masih menanggung adik, serta cucu-cucu yang lain. Mertua pun
sama halnya dengan orang tua yang mungkin tenaganya sudah tidak sekuat kita.
Lantas
untuk mengawasi pergaulan “anak/remaja” yang sedemikian aktif akankah cukup
dengan tenaga dan focus dari orang tua kita? atau suami seorang diri? Lantas bagaimana
dengan “Hak” mereka yang semakin tua mungkin berkeinginan menikmati hidup
dengan beribadah yang tenang? Terlebih anak adalah sebuah karuniah yang mungkin
bisa menjadi sebuah mala petaka bilamana kita tidak menjaganya dengan baik.
“Mekaya
sing gena dewek masa cukupa..” Artinya, “Mencari
nafkah di tempat sendiri gak bakalan cukup..” itu salah satu alasan bagi
mereka yang berangkat jadi TKW. Bagaimana kalau alasan tersebut kita adu dengan
argument seperti ini “Sekecil-kecilnya rejeki kalau untuk hidup cukup, tapi sebanyak-banyaknya
duit kalau untuk gaya hidup pasti tidak cukup”. Bagaimana menurut saudara?
Menjadi
TKW itu pekerjaan mulia, halal, mungkin yang salah adalah motivasinya.
Motivasi
TKW jaman sekarang bukanlah untuk menyambung hidup, tetapi lebih kepada “Gaya
Hidup”. Lihat tetangga punya motor, hp bagus, bahkan bisa bikin rumah… semua
bikin penyakit hati yang namanya “Iri” itu muncul ke otak. Ditambah hidup
dengan mertua kurang nyaman, akhirnya kepengen bangun rumah sendiri. Okelah,
manusiawi jika kita punya keinginan, tetapi “efeknya” sering kita dibutakan
oleh “Harapan Manis Dunia”.
Bukankah
yang sebaik-baiknya anak memberikan “Kenyamanan” di sisa umur orang tua kita? Maka
jangan bebani mereka dengan mengawasi cucunya. Bukankah lebih baik kita
mewariskan “ilmu” kepada keturunan kita di banding Harta?? Pikirkan mana yang
lebih selamat?
Mari
kita sama-sama awasi mereka yang kita cintai (Khususnya anak kita) agar hidup kita
nyaman dan terhindar dari masalah.
Memperbaiki
kerusakan mental remaja kita, tidak semata kewajiban pemerintah, kewajiban
bersama lebih tepatnya. Mari kita menjadi orang yang mau mengadakan perubahan “kecil”
dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan.
“Jangan Tukar harapan
masa depan anak kita menjadi “orang baik” dengan uang yang jumlahnya tidak
seberapa”.
Demikian
tulisan yang saya buat ini, semoga tersirat manfaat untuk kehidupan yang
membaca. Amin.
“Mari kita ubah dunia meski dengan sebuah tulisan”.
By. Jajat.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar